Artikel Terbaru

Terima Kasih Tuhan, Dunia Lebih Indah dengan Titipan-Mu Gerimis rintik-rintik belum saja berhenti. Sebuah kebiasaan yang mengakar kuat dalam keluarga kecil nan hangat ini untuk selalu bersama menyaksikan rezeki Tuhan yang dirindukan para petani. Walau saat itu aku berdua dengan ibu di rumah, pertautan batin keluarga kami melekat dalam hujaman menggelitik bersama hujan. Itulah hujan, 1% air dan 99% kenangan. 

Sebuah pelajaran kehidupan akan keikhlasan dan pengorbanan. Ibu adalah sosok yang selalu bijak menyikapi ayat-ayat Tuhan, Allah Azza Wa Jalla. Selalu dimunculkan cerita-cerita dan hikmah dalam semua fenomena yang terjadi di depan kita. Bekal yang indah bagi anak-anak bandel seusia kami sebelum dunia yang keras menemukan kami dan mengajak kami bermain-main di luar.

Terima Kasih Tuhan, Dunia Lebih Indah dengan Titipan-Mu 



Terima Kasih Tuhan, Dunia Lebih Indah dengan Titipan-Mu

“Nang, hujan itu indah ya. Hujan itu menyirami tanduran-tanduran (tanaman-tanaman) di sawah dan bisa kita makan setiap hari berupa beras. Sungaisungai juga dipenuhi air, jadi ikan-ikan bisa tumbuh besar dan bisa dipancing atau ditawu.”, tutur ibu lembut yang juga dengan nada Jawa yang begitu kental.

“Hujan itu kok airnya bisa di atas terus turun itu gimana ya bu?”, tanyaku penuh tanya seperti biasanya anak-anak yang polos. “Itu sebenarnya air laut, Nang. Dipanasi matahari lalu jadi sumup (uap) dan ngembun (mengembun) jadi awan. Nah, awan itu didhawuhi Gusti Allah untuk turun membantu manusia yang butuh air.”, lanjut ibu dengan penjelasan sedikit ilmiah dan teologis, bekal dari mengaji dan sekolah SMAnya dulu. “Terus awannya hilang, kan Bu? Kasian tho, Bu.”, sahutku dengan nada khas anak-anak empat tahun. 

“Ya, itulah pengorbanan dan keikhlasan. Terkadang kita harus iri sama awan. Mereka berkorban demi kemaslahatan ummat. Mensyukuri nikmat dan takdir Allah dengan tetap patuh pada perintah-Nya. Allah titipkan kemampuan menurunkan hujan pada awan, agar awan bisa bermanfaat dengan titipan itu, menginspirasi manusia agar selalu ikhlas dan bersyukur”, jawaban yang penuh dengan nilai-nilai rohani, sebuah jawaban yang indah bagi malaikat kecil yang suci nan bersih, dan berbekas hingga malaikat itu kehilangan sayapnya menjadi manusia. 

Nama kecilku Tito. Walau itu nama kecil, seiring diriku bertambah dewasa, nama itu juga beranjak dewasa dan akhirnya juga jadi nama besarku.

Hari demi hari, tahun demi tahun terlewati. Sudah seperti mimpi semalam aku sudah kelas 6 SD. Suatu hari ibu menyuruhku mengambil kertas yang nyangkut di pagar tetangga dan membuangnya. Tapi aku dari tempatku berdiri tak melihat apapun dipagar itu. Dengan sedikit emosi ibu menyuruhku serius, masa melihat kertas sejelas itu bilang tidak ada. Apa boleh buat, aku sedikit jujur sama ibu, seperti yang telah anak kelas 5 SD dapat, bahwa aku merasa sedikit rabun jauh. Seketika itu ibu membawaku ke RSUD Dr. Soewondo Kendal. Setelah beberapa kali tes mata, dokter berkata bahwa aku minus 4 untuk mata kiri dan 3,5 untuk sebelah kanan. Dan ada tambahan lain dalam diagnosanya, bahwa kemungkinan besar ini sudah lama dan aku tidak menyadari. 

Semenjak itu aku memakai kacamata dengan minus yang diturunkan setengah yaitu 3,5 untuk kiri dan 3 untuk kanan. Aku mengambil simpulan awal bahwa kebiasaanku menonton TV dan bermain video game di rumah tetangga adalah penyebab aku minus sebanyak itu. Tetapi setelah aku coba memanggil memori lamaku, sebenarnya kemampuanku untuk membaca dan melihat jauh itu tidak lebih baik dari temanku aku sadari sejak sebelum aku bermain game dan sering menonton TV. 

Semenjak itu Ibu bercerita tentang Bapak yang dulu punya penyakit rabun senja. Ketika senja hari, Bapak tidak boleh keluar rumah atau bapak tak akan bisa pulang. Lalu ibu juga bercerita tentang Mas Tian yang ternyata mengidap buta warna parsial. Sebagai anak kelas 6 SD aku hanya megiyakan saja apa yang disampaikan Ibu. 

Masa SMP sudah datang. Masa pergulatan hidup yang lain. Dunia sudah mulai mengajakku bermain lebih dalam realita kehidupan. Saat itu adalah praktikum biologi pertamaku yaitu mengamati bentuk dan struktur yang tergambar dari daun Rhoe discolor. Sungguh aku merasa aneh dengan diriku, aku merasa kesulitan dalam membedakan beberapa warna yang ada pada hasil mikroskop daun itu. Lalu aku hanya meminta kawanku untuk mengamatinya dan aku mengerjakan tugas yang lain.

Aku teringat tentang buta warna yang pernah ibu ceritakan padaku. Dengan sedikit rasa ingin tahu, aku mencari informasi tentang buta warna di internet. Sungguh mengejutkan saat aku tahu, bahwa ini adalah kelainan yang menurun. Aku mulai menggunakan aplikasi-aplikasi online untuk tes kebutawarnaan. Dan hasilnya adalah mengejutkan, positively, red-green partial color blinding.

Rumor yang berkembang adalah bahwa seorang pengidap buta warna itu memang sedikit terdiskriminasi di dunia kerja, teknologi, dan ilmu alam. Aku sedikit kaget saat ternyata ini lebih buruk dari yang aku bayangkan.

Saat kelas 9 SMP, adalah saat-saat aku menentukan, kemana aku akan melanjutkan pendidikan. Aku punya ketertarikan dalam mekanika. Sempat ku ingin masuk SMK, tapi terkendala syarat buta warna. Aku pun memutuskan masuk SMA. “Ya Allah, bila ini takdir yang Kau pilih untukku. Kuatkan aku mengemban titipan-Mu. Bila memang Kau tidak berkenan menunjukkan betapa sempurnanya ciptaanMu dengan mata titipan-Mu ini, setidaknya tunjukkanlah kesempurnaan-Mu di surga kelak. Dengan hamba sabar dan ikhlas akan ini, akan jadi hujjahku di hadapan-Mu kelak”, rintihan doa seorang penderita buta warna. 

Aku tahu bahwa buta warnaku ternyata adalah buta warna total setelah aku tes buta warna di dokter mata RSUD Soewondo saat SMA. Aku jadi teringat kisah hujan saat kecil, bahwa semua ini tentang keikhlasan, pengorbanan. Biarlah aku berkorban mengambil takdir sebagai penderita buta warna, aku kan coba menghujani orang lain dengan kemanfaatan, itulah yang harus ku cari untuk menyempurnakan amanah suci ini agar bisa jadi teladan bagi sesama penderita bahwa takdir ini bukanlah peghalang. Takdir ini adalah keistimewaan. 

Allah menjawab doa hamba yang fakir ini. Ternyata ada bidang teknologi yang sama sekali tidak mempedulikan buta warna, FTMD-ITB, fakultas yang semua jurusannya boleh buta warna. Sungguh sebuah jawaban yang manis, yang mana sejak dulu aku punya cita-cita membuat pesawat seperti presiden ketiga kita, Pak Habibie. 

Keluarga saling mendukung dan bergotong royong dalam pilihanku ini. Semoga ini adalah awal dalam kisahku selanjutnya, menjadi motivator para penyandang buta warna, menjadi awan yang senantiasa memberi manfaat pada semua, walau dengan perjuangan yang lebih berat, minus dan buta warna bukan halangan. Dengan ini, aku semakin yakin, para penyandang buta warna, di Indonesia khususnya, tidak sepatutnya berkecil hati. Untukmu Ibu Pertiwi, selain aku ingin mengangkat kembali kejayaan dirgantara negeri ini, aku ingin tunjukkan pada pemuda-pemudi Indonesia, kekurangan bukanlah halangan, melainkan motivasi yang besar untuk berkarya lebih besar. Terima kasih Tuhan, dunia lebih indah dengan titipan-Mu.  

Penulis : Ariestyo Wahyu Tri Wibowo