Berpartisipasi Amal Jamai dengan Masyarakat

1 min read

Naluri manusia adalah makhluk sosial. Semua memiliki kebutuhan, kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain. Dalam Tafsir Ibnu Katsir digambarkan keadaan Adam ‘alaihissalam sebelum kedatangan Hawwa dengan ungkapan “berjalan-jalan sendirian dan kesepian”. Setelah kedatangan Hawwa, lahirlah keturunan dari mereka, laki-laki atau perempuan, sehingga jumlahnya menjadi milyaran umat manusia seperti sekarang ini.

Allah Ta’ala telah menjelaskan kepada kita rahasia penciptaan manusia yang beragam kulit, tradisi, bahasa, dan alamnya. Semua itu tidak dalam rangka manusia untuk saling bermusuhan dan menumpahkan darah. Tetapi untuk saling mengenal, saling membutuhkan dan saling mengunjungi.

Sikap Pemikiran yang Kurang Tepat

Ada sebagian orang muslim yang ingin menyendiri dalam kehidupan dan tidak mau bergaul dengan masyarakat; sikap dan pemikiran yang mereka miliki diantaranya adalah:

Pertama, islam tidak mengajarkan untuk memvonis tetapi islam mengajarkan untuk mendakwahi.

Kedua, islam tidak mengajarkan anti sosial.

Ketiga, islam tidak mengajarkan umatnya untuk menganggap semua jama’ah dan organisasi Islam itu sesat dan firqah (sempalan yang memecah belah) tetapi islam mengajarkan agar umatnya melihat betul sifat-sifat organisasi tersebut secara obyektif. Sudut pandang ini akan menghindarkan diri kita dari keengganan untuk bergaul dengan masyarakat ramai dan mengikuti berbagai macam organisasi.

Sikap Diri yang Seharusnya

Pertama, empati sebagai pondasi pergaulan.

Yang dimaksud dengan empati adalah:

  1. Kita memandang siapapun dengan kasih saying
  2. Mencoba merasakan perasaan lawan bicara kita
  3. Agar tidak mudah men-judge orang lain
  4. Klo bertemu saling sapa dan salam
  5. Hadapi tetangga/ masyarakat yang kurang suka dengan kita dengan kesabaran

Kedua, keteladanan sebagai contoh praktis.

Yang dimaksud dengan keteladanan adalah:

Gimana kita menjalin lingkungan yang berdampak positif bagi masyarakat. Misalnya, membangun remaja masjid dan karang taruna di masyarakat.

Ketiga, memberikan manfaat buat lingkungan sekitar kita.

Keempat, teguh pendirian dengan keislaman kita.

Yang dimaksud dengan teguh pendirian adalah:

  1. Tidak terbawa arus buruk masyarakat
  2. Kita jadi orang yang memaklumi
  3. Agama islam adalah agama yang memudahkan
  4. Heterogenitas itu sunnatullah
  5. Sesama manusia itu untuk saling mengenal bukan saling mencari kesalahan satu sama lain
  6. Pendekatan kepada setiap manusia itu berbeda-beda
  7. Berbicara sesuai kadar pemahaman masyarakat

Kelima, tidak mengumbar janji.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menguatkan kita untuk menghimpun umat ini dalam kebaikan dan keridhoan-Nya. Wallahul Musta’an…


penulis: Hamidah

Prodi: Manajemen bisnis syariah

Referensi:

https://tarbawiyah.com/berpartisipasi-dalam-amal-jamai-bersama-masyarakat/..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.