Budaya Mudik Lebaran di Indonesia

1 min read

Budaya Mudik Lebaran di Indonesia

Budaya Mudik Lebaran di Indonesia – Mudik Lebaran merupakan tradisi untuk berkumpul kembali dengan keluarga dalam suasana perayaan Iedul Fitri atau yang biasa disebut orang lebaran. Masyarakat rela mengantre dalam waktu yang lama, berdesak-desakan dan macet untuk melanjutkan tradisi pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga saat Lebaran.

Budaya Mudik Lebaran di Indonesia

Fenomena mudik Lebaran di Indonesia memang unik dan jarang ditemukan di negara lain. Sekitar seminggu sebelum Lebaran, para perantau berbondong-bondong meninggalkan ibu kota dan pulang kampung. Mudik dirancang khusus untuk dinamika mudik saat Lebaran. Saat pulang kampung pada hari biasa, Anda tidak akan diberi nama mudik. Bagaimana tradisi mudik Lebaran dimulai di Indonesia?

Awal Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia

Di masa lalu antara mudik dan lebaran, mereka tidak memiliki hubungan satu sama lain. Dalam bahasa Jawa ngoko, mudik berarti “mulih dilik”, yang berarti mudik sebentar. Namun kini makna mudik dikaitkan dengan kata “Udik”, yang berarti desa, kelurahan atau tempat yang menandakan antonim kota. Kemudian pemahaman ini ditambahkan ke “Mulih Udik”, yang berarti kembali ke desa atau kelurahan saat Lebaran.

Padahal, tradisi Mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang ada sebelum zaman Kerajaan Majapahit. Di masa lalu, para perantau kembali ke kampung halaman mereka untuk membersihkan kuburan leluhur mereka. Hal ini dilakukan untuk meminta keamanan dalam mencari makanan.

Namun istilah mudik Lebaran tidak berkembang hingga sekitar tahun 1970-an. Pada saat itu, Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, tampaknya menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. Pada saat itu, sistem pemerintahan Indonesia terkonsentrasi di sana dan ibu kota negara semakin cepat dengan berbagai kemajuan dibandingkan dengan kota-kota lain di negara ini.

Bagi warga lain yang bermunah di kampung, Jakarta telah menjadi salah satu kota tujuan impian untuk mengubah nasib mereka. Lebih dari 80 persen kaum urban datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Jika Anda memiliki pekerjaan, biasanya Anda hanya mendapatkan liburan panjang saat Lebaran. Dinamika ini digunakan untuk kembali ke kampung halaman.

Ini berlanjut dan mengambil lebih banyak akar ketika banyak kaum urban mencoba keberuntungan mereka di kota. Tidak hanya di Jakarta, tradisi membawa penduduk dari desa ke kota juga dapat ditemukan di ibu kota provinsi lain di Indonesia. Selain itu, dengan diperkenalkannya otonomi daerah pada tahun 2000, semakin banyak orang mencari kebahagiaan di kota.

Sama seperti di Jakarta, mereka yang bekerja di kota hanya bisa pulang kampung saat libur panjang, yakni saat libur Lebaran. Sehingga momentum ini meluas dan dengan demikian berkembang menjadi sebuah fenomena.

Tetapi orang-orang tidak bisa melepaskan tradisi pulang ke rumah ini. Ada hal-hal yang mengharuskan perantau untuk kembali ke rumah. Pertama, pulang ke rumah menjadi cara untuk mencari keberkahan karena dapat terhubung dengan keluarga, kerabat, dan tetangga. Kegiatan ini juga sebagai pengingat asal usul wilayah bagi mereka yang bermigrasi.

Tradisi pulang kampung bagi perantau di Ibu Kota juga bertujuan untuk menunjukkan eksistensi keberhasilan mereka. Selain itu, juga menjadi tempat untuk berbagi dengan kerabat yang sudah lama harus merasakan kesuksesan mereka saat bepergian. Mudik juga menjadi terapi psikologis untuk memanfaatkan libur lebaran untuk bepergian setelah setahun berat dalam rutinitas bekerja, sehingga saat kembali masuk kerja memiliki semangat baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.