Pengertian Perilaku Konsumen dan Perilaku Produsen

4 min read

Pengertian Perilaku Konsumen dan Perilaku Produsen – Manusia melakukan kegiatan konsumsi barang dan jasa untuk menjaga kelangsungan hidup. Tingkat konsumsi yang dilakukan manusia berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing. Tingkat konsumsi menunjukkan perilaku konsumen dalam melakukan kegiatan konsumsi.
 
Konsumsi adalah kegiatan menghabiskan atau mengurangi nilai guna barang dan jasa. Konsumsi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kegiatan konsumsi yang dilakukan setiap manusia berbeda-beda. Perbedaan konsumsi dipengaruhi tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, harga barang dan/ atau jasa, selera atau gaya hidup masyarakat, harga barang pengganti, prakiraan harga pada masa datang, status sosial dalam masyarakat, serta lingkungan sosial budaya.
 

Pengertian Perilaku Konsumen dan Perilaku Produsen

 
Konsumen melakukan pembelian atau konsumsi untuk mencapai kepuasan dalam hidup. Keputusan konsumen untuk melakukan konsumsi karena barang dan/atau jasa memiliki nilai guna. Nilai guna (utilitas) diartikan sebagai tingkat kepuasan yang diterima konsumen atas konsumsi suatu barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi, penentuan keputusan untuk melakukan konsumsi dapat dijelaskan melalui pendekatan kardinal dan ordinal.
 
 
Pendekatan Kardinal
 
Pendekatan kardinal menganalisis tingkat kepuasan konsumen yang diukur secara kuantitatif berupa angka. Pendekatan ini bersifat subjektif karena ukuran dan nilai guna suatu barang bergantung penilaian tiap-tiap orang. Ukuran untuk mengetahui nilai guna suatu barang disebut utilitas (utility). Pada pendekatan kardinal, nilai guna dibedakan menjadi nilai guna total dan nilai guna marginal. Nilai guna total adalah nilai kepuasan seluruh konsumen akibat mengonsumsi barang dan jasa tertentu. Nilai kepuasan konsumen akan berkurang di titik tertentu. Nilai guna marginal adalah tambahan nilai kepuasan yang diperoleh konsumen karena jumlah barang yang dikonsumsi bertambah.
 
 
Hukum Gossen l
 
Kegiatan konsumsi barang dan jasa yang dilakukan secara terus-menerus menyebabkan nilai tingkat kepuasan total akan bertambah. Akan tetapi, pada titik tertentu nilai kepuasan akan menurun. Kondisi ini disebut hukum Gossen I. Hukum Gossen I berbunyi, “Jika jumlah barang yang dikonsumsi dalam jangka wuktu tertentu terus ditambah, kepuasan total yang diperoleh juga bertambah. Akan tetapi, kepuasan marginalnya semakin berkurang. Jika konsumsi terus dilakukan, tambahan kepuasan yang diperolek menjadi negatif dan kepuasan total akan berkurang.”
 
 
Pendekatan Ordinal
 
Pendekatan ordinal digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan konsumsi yang tidak dapat diukur menggunakan angka. Tingkat kepuasan diukur dengan menggunakan peringkat, misalnya tidak puas, cukup puas, puas, dan puas sekali. Pendekatan ini disertai dengan kurva indiferen. Kurva indiferen menunjukkan pada titik mana pun, kedua kebutuhan terpenuhi dengan tingkat kepuasan sama. Kondisi ini sama sesuai dengan pernyataan hukum Gossen II.
 
 
Hukum Gossen II
 
Hukum Gossen II menyatakan bahwa, “Seorang konsumen akan membagi-bagi pengeluarannya untuk membeli berbagai macam barang sedemikian rupa sehingga kebutuhan-kebutuhan terpenuhi secara seimbang.”
 

Peran Konsumen dalam Perekonomian

 
Kegiatan konsumen tidak hanya menghabiskan atau mengurangi nilai guna barang dan jasa. Konsumen juga berperan dalam kegiatan ekonomi antara lain menyediakan faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan), menerima balas jasa atas penggunaan faktor produksi, menggunakan barang dan/ atau jasa, dan membayar pajak kepada negara.
 
 
Etika Konsumen
 
Kegiatan konsumsi yang dilakukan konsumen harus mempertimbangkan etika konsumen. Dalam melakukan konsumsi, konsumen harus bersikap bijak dan rasional. Konsumsi secara bijak berarti kegiatan konsumsi dengan mempertimbangkan kelestarian sumber daya ekonomi. Konsumsi secara rasional berarti kegiatan konsumsi dengan menerapkan prinsip ekonomi. Kegiatan konsumsi dilakukan dengan mengeluarkan pengorbanan tertentu untuk mencapai kepuasan maksimal. Selain itu, kegiatan konsumsi perlu mempertimbangkan kemampuan atau daya beli konsumen.
 
 
Perilaku Konsumtif
 
Perilaku konsumtif berarti melakukan kegiatan konsumsi secara berlebihan. Ciri-ciri perilaku konsumtif antara lain bersikap boros dalam mengalokasikan uang, tidak memperhatikan prioritas kebutuhan hidup, hanya mementingkan selera dan keinginan, dan menggunakan secara tidak efisien barang yang dibeli. Perilaku konsumtif harus dihindari agar dapat menjaga kelestarian dan kelangsungan sumber daya ekonomi yang bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
 
 
Perilaku Produsen
 
Manusia memerlukan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan hidup. Untuk menghasilkan barang dan Jasa, manusia melakukan kegiatan produksi. Kegiatan produksi dilakukan oleh produsen. Kegiatan produsen dalam memproduksi barang dan Jasa merupakan salah satu wujud perilaku produsen.
 
Kegiatan menghasilkan barang dan jasa disebut kegiatan produksi. Kegiatan produksi dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kegiatan produksi dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk, mengganti produk yang rusak (aus), mencari keuntungan sebesar-besarnya, dan meningkatkan taraf hidup pribadi/ individu dan masyarakat.
 
Dalam melakukan proses produksi, produsen membutuhkan berbagai faktor produksi yang terdiri atas faktor produksi sumber daya alam, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan. Faktor produksi tersebut merupakan input dalam proses produksi untuk menghasilkan output berupa barang dan/atau jasa. Untuk menghasilkan output berkualitas membutuhkan input yang berkualitas pula. Tidak hanya itu, kualitas produsen juga menjadi faktor penting dalam menghasilkan output berkualitas.
 
 
Sumber Daya Alam
 
Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang terdapat di alam, baik di perut maupun di muka Bumi. Contoh sumber daya alam adalah tanah, air, barang tambang, sinar Matahari, hewan, dan tumbuhan. Sumber daya alam dikelompokkan menjadi sumber daya alam terbarukan dan sumber daya alam tidak terbarukan. Sumber daya alam terbarukan merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui dan tidak memerlukan waktu lama untuk memperbarui. Sumber daya alam tidak terbarukan merupakan sumber daya alam yang memerlukan waktu sangat lama untuk memperbarui.
 
 
Tenaga Kerja
 
Tenaga kerja adalah orang yang terlibat dalam proses produksi. Faktor produksi tenaga kerja meliputi keterampilan, keahlian, pikiran, dan fisik manusia. Ditinjau dari kualitas, tenaga kerja dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tenaga kerja terdidik, tenaga kerja terlatih, serta tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih.
 
 
Modal
 
Modal adalah segala sesuatu yang digunakan dalam proses produksi untuk menambah kekayaan. Modal dapat berupa uang atau barang. Modal dapat dikelompokkan berdasarkan sifat, bentuk, dan sumber. Berdasarkan sifat, modal dibedakan menjadi modal tetap dan modal lancar. Berdasarkan bentuk, modal dikelompokkan menjadi modal konkret dan modal abstrak. Berdasarkan sumber, modal dibedakan menjadi modal sendiri dan modal pinjaman.
 
 
Kewirausahaan
 
Kewirausahaan merupakan salah satu faktor produksi berupa sa kemampuan mengombinasikan secara efisien faktor-faktor produksi. Seseorang yang memiliki kemampuan tersebut disebut wirausahawan. Wirausahawan harus memiliki sikap mental positif antara lain mandiri, kreatif, pantang menyerah, dan bertanggung jawab. Wirausahawan harus memiliki keahlian- keahlian tertentu dalam menunjang pengelolaan usaha. Keahlian- keahlian wirausahawan tersebut antara lain managerial skills, organizational skills, technical skills, human skills, decision skills, dan time managerial skills.
 
 
The Law of Diminishing Returns
 
Dalam teori ekonomi, sifat tunggal produksi diasumsikan dengan hukum pertambahan hasil yang semakin menurun (the law of diminishing returns) yang dikemukakan oleh David Ricardo. Hukum tersebut menyatakan bahwa jika ada (paling sedikit) satu input yang tetap (misalnya tanah atau mesin), dikombinasikan dengan satu input variabel (tenaga kerja) yang terus ditambah satu unit, output akan bertambah, mula-mula dengan tingkat pertambahan yang lebih dari proporsional (increasing returns), tetapi pada titik tertentu tambahan hasil akan menjadi kurang dari proporsional (diminishing returns).
 
Misalnya seorang tenaga kerja mampu menghasilkan barang 20 unit dalam waktu satu hari. Setiap penambahan seorang tenaga kerja akan menghasilkan 45 unit, 70 unit, dan 85 unit. Dengan demikian, tambahan hasil output semakin menurun.
 
 
Peran Produsen dalam Perekonomian
 
Produsen berperan menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Produsen juga membayar balas jasa atas penggunaan faktor-faktor produksi untuk menunjang kegiatan produksi. Produsen wajib membayar pajak badan usaha atas kegiatan produksi yang dilakukan. Selain itu, produsen bertindak sebagai mitra pemerintah dalam menyelenggarakan program pembangunan.
 
 
Etika Produsen
 
Kegiatan produksi yang dilakukan produsen tidak hanya untuk mencari keuntungan. Produsen juga perlu memperhatikan manfaat dan dampak atas kegiatan produksi yang dilakukan. Dampak kegiatan produksi terhadap lingkungan (amdal) harus diperhatikan sebagai wujud etika produksi.
 
Produsen juga perlu memperhatikan manfaat kegiatan produksi bagi lingkungan sekitar. Produsen perlu menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan. Baca juga artikel lainnya di Rumbelnesia
 
Etika produsen yang diterapkan dalam kegiatan ekonomi antara lain mematuhi undang-undang, ikut serta menyejahterakan masyarakat, menghindari tindakan operasional produksi yang tidak etis, menjaga dan melestarikan lingkungan, membangun citra baik kepada masyarakat, memberikan informasi secara detail tentang produk yang dihasilkan, memberi jaminan kepada konsumen bahwa produk yang dihasilkan layak konsumsi, serta memberikan ganti rugi jika produk yang dihasilkan menimbulkan dampak negatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page