Review Bisnis Kreatif “LIMBAHAGIA”

4 min read

Bisnis daur ulang sampah terdengar kurang menarik dan populer di telinga masyarakat. Pada kenyataannya sampah menjadi salah satu peluang bisnis yang menguntungkan.

Sejatinya, persoalan sampah di perkotaan tak kunjung selesai. Tingginya kepadatan penduduk membuat konsumsi masyarakat pun tinggi. Di sisi lain, lahan untuk menampung sisa konsumsi terbatas. Persoalan semakin bertambah. Sampah konsumsi warga perkotaan itu ternyata banyak yang tidak mudah terurai, terutama plastik. Semakin menumpuknya sampah plastik menimbulkan pencemaran serius.

Menurut Riset Greeneration, organisasi non-pemerintah yang 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Bahkan, hasil riset Jenna R Jambeck (www.sciencemag.org) menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Namun, masalah sampah ini oleh segelintir orang justru menjadi peluang usaha. Salah satunya adalah Indra Noviansyah. Dipicu permasalah sampah di lingkungannya, lajang yang akrab disapa Novint ini pun coba memberi solusi terhadap permasalahan sampah ini. Terutama daur ulang limbah plastik. Menariknya, dari sampah ini Novint mampu meraup untung hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Melalui bendera usaha Limbahagia yang dikembangkannya tahun 2008, Novint dan 12 karyawannya mengolah sampah plastik menjadi bijih plastik. Tak hanya di Pontianak, dia juga menawarkan waralaba usaha ini hingga ada 67 mitra yang tersebar di Indonesia, dan Brunei Darussalam. Selain memasok industri plastik lokal, Limbahagia menjual ratusan ton bijih plastik ini ke China tiap bulan. Menariknya, bukan cuma sampah plastik. Kini, Limbahagia juga mengolah jenis sampah lainnya.

Dia pun mengumpulkan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk dan pakan hewan dan sampah kertas. Bertempat di Jalan Teuku Umar, dekat Pontianak Mall, dia mengolah sampah menjadi bernilai jual tinggi. Tiap harinya, ia mengaku mampu menghasilkan belasan ton sampah siap kirim ke berbagai negara, utamanya China.

Menurut Novint, usaha ekspor sampah ini tidak hanya mendapatkan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga berdampak pada sisi lingkungan

Beragam Usaha

Pria kelahiran Pontianak, 7 November 1989 ini mengaku usaha pengelolaan sampah yang dilakoninya kini merupakan panggilan hidupnya. Maklum, sejak kecil tinggal di bantaran Sungai Kapuas membuatnya akrab dengan lingkungan. Novint kecil sering melihat teman-temannya memungut kaleng, botol, dan gelas plastik dari sungai, dan menjualnya ke pengepul.

Melihat kegembiraan teman-teman bisa menghasilkan uang sendiri, dia pun tertarik melakukan hal yang sama. Pengalaman masa kecil itulah yang menjadi awal minatnya untuk menekuni bisnis pengolahan sampah.

Namun sebelumnya, Novint memang sudah terpanggil untuk menjadi pengusaha, mengikuti jejak kedua orangtuanya yang memiliki bisnis kontraktor. Sejak kuliah dia rajin menjaring peluang. Mulai dari bisnis jual tokek hingga membangun kafe. Ia juga pernah usaha membuka lapangan futsal hingga cuci mobil. Bahkan, Novint cukup sukses membuka toko sepatu, lalu toko sepeda fixie dan sepeda lipat. Sayangnya, semua bisnis itu mengalami kendala.

Mewarisi semangat dan kerja keras orangtuanya membuat Novit tidak menyerah. Ia juga tak ingin hanya menjadi penerus usaha orangtua. Dia terus menjajaki bisnis baru yang menurutnya punya potensi di masa depan.

Dalam riset yang dilakukan sampai ke Jakarta itu, Novint menemukan bahwa bisnis daur ulang sampah sangat prospektif.

Selepas kuliah, dengan uang yang tersisa, Novint pun pergi ke Jakarta untuk belajar mengelola sampah. Melihat peluang itu, Novint pun membuka usaha ini pada tahun 2008 dengan modal sekitar Rp 29 juta. Namun, Novint tak langsung mempraktikkan ilmunya karena belum punya lahan untuk pabrik pengolahan. Dia menjadi pengumpul sampah terlebih dulu dan memasoknya ke pengolah sembari mempelajari bisnis ini. Sebagai pengumpul sampah, dia menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, seperti dengan sekolah, pengelola hotel dan restoran, serta kompleks perumahan.

Waralaba

Setelah memiliki lahan sendiri dan membeli sejumlah mesin, pria yang telah menempuh program Master Sosial Entrepreneur Universitas Trisakti ini memulai pabrik pengolahannya pada 2012. Perlahan-lahan dari kapasitas 1 ton, kini pabriknya punya pengolahan sampah plastik hingga 50 ton. Setelah melihat besarnya permintaan, terutama dari China, dia pun membuka waralaba.

Rupanya, meski sampah banyak di daerah sekitarnya, toh tidak mudah untuk memenuhi permintaan akan limbah tersebut. Agar bisa tetap mendapatkan sampah, Novint punya cara alternatif, yakni dengan konsep bank sampah. Ia menempatkan sejumlah tong sampah di gang-gang di Pontianak. Tong itu khusus untuk mengumpulkan sampah berbahan plastik. Nanti setelah terkumpul Ia akan membelinya dari para warga.

Cara lain dengan merangkul siswa-siswa sekolah. Novint menempatkan tong sampah itu di sekolah-sekolah. Para siswa yang dikoordinir pengurus OSIS bertugas mengumpulkan sampah-sampah plastik. Setelah terkumpul Novint akan mengambilnya.

Novint juga memberi jaminan untuk membeli biji plastik yang dihasilkan dari pabrik mitra. Untuk mendukung bisnis pengelolaan sampahnya, Novint pun membuat aplikasi bank sampah. Lewat aplikasi ini, dia ingin masyarakat dengan mudah mengirimkan sampah ke perusahaannya atau perusahaan mitra. “Jadi, kami tinggal jemput sampah tersebut,” kata anggota delegasi Asia Young Leader di Brunei Darussalam tahun 2013.

Kini, usaha pengelolaan sampah dan Limbahagia telah mendapat dukungan dari banyak pihak. “Kalau dulu saya murni jalan sendiri. Sekarang alhamdulillah sudah dipercaya oleh pemerintah baik di pusat maupun daerah untuk mengurus sampah di masing-masing lokasi mereka,”

Hingga kini Limbahagia telah memiliki 67 mitra di seluruh Indonesia hingga ke Brunai Darussalam. “Komoditi biji plastik daur ulang yang kami produksi saat ini menjadi primadona. Bahan baku plastik pada awalny hanya mengandalkan minyak bumi, dan kini harga minyak semakin mahal dan stok semakin tipis sehingga penggunaan produk daur ulang menjadi solusi untuk bahan baku plastik saat ini.

Bahkan, Novint secara resmi diminta menjadi operator daur ulang di Brunei. Ia sudah diberi tanah untuk mengelola sampah di sana, dengan pembagian keuntungan 60:40. Pemerintah Brunei akan mendapatkan 60% keuntungan, dan Limbahagia mendapat 40%. “Kami telah menyiapkan segala sesuatunya agar usaha kami berjalan di Brunei,” sebut pria lulusan Fakultas Ekonomi di UNTAN ini.

Ekspor sampah plastik membuat Novint bisa mengantongi keuntungan hingga ratusan juta rupiah. Barang yang sebelumnya tidak berguna itu harga jualnya cukup tinggi di luar negeri. Selain menguntungkan, lewat usaha ini dia merasa dapat membantu mengurangi volume sampah plastik yang terus meningkat dan berbahaya bagi lingkungan karena susah terurai.

Novint berencana untuk membuat aplikasi program #BankSampahOnline yang nanti dapat diunduh di Android dan sistem operasi smartphone lainnya. Selain itu, ia pun akan membangun bisnis e-commerce. Lewat aplikasi tersebut dia berharap dapat membangun suatu hubungan yang harmonis dalam menangani masalah lingkungan.

“Masyarakat yang memiliki sampah plastik di rumahnya dapat menabung dengan men-submit yang nantinya akan terkoneksi dengan mitra pabrik kami terdekat yang tersedia di berbagai kota di Indonesia. Hal ini untuk memutus mata rantai mafia sampah plastik di tingkat pengepul serta mengajak masyarakat Indonesia untuk peduli akan keberadaan sampah plastik yang sebenarnya bernilai di dalam lingkungan sekitar mereka,” jelasnya.

Bukan cuma sampah plastik, kini Limbahagia juga mengolah limbah bungkil sawit. “Tapi, untuk proyek ini kami bekerjasama dengan investor lain,  Selanjutnya, Novint juga akan mengolah jenis sampah lain. “Pokoknya, semua sampah ada nilai jualnya. Dia pun mengumpulkan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk dan pakan hewan dan sampah kertas.

Pria lajang ini telah mengesampingkan gengsi demi bisnis ini. “Bisnis jangan kebanyakan gaya biar keliatan keren dan dibilang pengusaha. Banyak bisnis yang tidak mainstream tapi berpeluang lebih menghasilkan dan sustain dibandingkan bisnis yang ingin terlihat keren saja. Kalau bisa yang kebutuhannya benar-benar akan terus ada sampai kiamat,” Dan kini beliau bisa menghasilkan ratusan juta/bulan dari sesuatu yang orang lain buang.


Penulis : Fauzia Nur Fadillah

Prodi : Manajemen Bisnis Syariah


Sumber: https://youtu.be/QvzEWP6zXNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.