Tari Bosara: Sejarah, Fungsi, Properti, dan Ragam Gerak

3 min read

Tari Bosara

Tari Bosara: Sejarah, Fungsi, Properti, dan Ragam Gerak -Tari Bosara adalah salah satu jenis tarian yang berasal dari Sulawesi Selatan yang menggunakan nampan yang digunakan untuk menyajikan makanan di pernikahan sebagai propertinya. Sebenarnya tarian ini mirip dengan Tari Piring, tetapi untuk properti yang digunakan tidaklah sama. Kalau tari Piring yang digunakan dalam Tari Bosara adalah piring khas masyarakat Bugis.

Tari Bosara

Ingin mengenal lebih dekat Tari Bosara dari Sulawesi Selatan ini? Informasi lengkapnya ada di artikel berikut ini, loh!

Pengertian dan Sejarah Tari Bosara

Dalam Bahasa masyarakat Makassar dan Bugis, bosara berarti nampan yang digunakan untuk menyajikan makanan di pernikahan. Wadah ini terbuat dari besi dengan penyangga satu kaki. Penutup bosara disebut dengan pattongko. Tanpa pattongko, bosara tidak akan menjadi bosara. Sebab, Bosara dan pattongko merupakan satu kesatuan.

Nah, di dalam adat Sulawesi Selatan terdapat sebuah tarian yang menggunakan bosara sebagai propertinya. Tarian ini disebut dengan Tari Bosara. Tari Bosara adalah salah satu tarian tradisional Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan. Tarian ini biasanya digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu terhormat.

1Properti yang digunakan dalam Tari Bosara menggambarkan kebiasaan masyarakat Bugis yang menjamu tamu dengan sajian kue-kue yang diletakkan di atas bosara. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kehormatan bagi tamu. Dalam adat masyarakat Bugis, tamu adalah raja yang harus diistimewakan.

Pada zaman dahulu, tarian ini sering digunakan untuk menjamu raja, tamu agung, pesta adat, hingga acara perkawinan. Saat itu, kue-kue yang disajikan untuk raja dan tamu agung jumlahnya adalah 2 kasera.

Bosara sendiri adalah piring khas Bugis yang bahan utama pembuatannya adalah besi. Piring tradisional ini dilengkapi penutup yang bentuknya seperti kobokan besar. Penutup ini dibalut menggunakan kain berwarna terang, seperti merah, biru, kuning, atau hijau dengan ornamen emas di sekelilingnya.

Kue yang disajikan di dalam bosara bervariasi, mulai dari kue kering hingga kue basah. Jenis kue basah yang digunakan biasanya kue cucur, bolu peca, brongko, biji nangka, kue lapis, kue sala, dan lain-lain. Kue basah khas Bugis kebanyakan terbuat dari tepung.

Sedangkan kue kering yang biasa disajikan adalah baruasa, cucur ma dingki, bannang-bannang, umba-umba, kue sero-sero, oko roko unti, serta berbagai jenis kue putu. Jenis kue putu yang dimaksud antara lain putu cangkiri, putu labu, dan putu mayang. Bosara dan segala isinya ini biasanya diletakkan di atas meja dalam suatu rangkaian acara tertentu.

Fungsi dan Makna Tari Bosara

Di samping menjadi tarian penyambutan tamu kehormatan dan pengisi acara pernikahan, Tari Bosara juga memiliki beberapa fungsi lain.

Fungsi tersebut diantaranya:

  1. Sebagai sarana pertunjukan
  2. Sebagai sarana pergaulan
  3. Sebagai sarana pendidikan
  4. Sebagai sarana ekspresi
  5. Sebagai sarana pengembangan bakat

Pada zaman dahulu, orang-orang Makassar dan Bugis menggunakan bosara sebagai tempat menyimpan makanan yang digunakan untuk menjamu tamu. Sebelum menikmati jamuan, tamu-tamu dimanjakan terlebih dahulu dengan Tari Bosara. Biasanya anak-anak dilarang mengambil makanan terlebih dahulu sebelum tamu mencicipi jamuan yang dihidangkan.

Saat ini bosara sudah beralih fungsi. Bosara yang sekarang digunakan sebagai wadah untuk mengantar undangan pernikahan. Pengantar undangan di Makassar berdandan dengan memakai baju Bodo dan jas tutup. Para pengantar undangan ini akan membawa undangan di dalam bosara yang ditutup untuk diserahkan kepada orang yang diundang.

Masyarakat Bugis merasa bahwa kurang sopan jika memberikan undangan kepada orang yang lebih tua tanpa menggunakan bosara sebagai wadahnya. Hal ini memiliki filosofi yang sama dengan cara menyajikan teh atau kopi menggunakan nampan untuk tamu. Namun, zaman sudah terus berubah dan berkembang.

Anak-anak muda lebih memilih menggunakan undangan elektronik untuk menghemat pengeluaran. Hal ini disebabkan karena biaya jasa pengantar undangan semakin mahal. Dalam satu acara hajatan, pengantar undangan yang dibutuhkan tidak hanya satu. Untuk itu, undangan elektronik adalah jawaban.

1# Busana dan Properti

Busana yang digunakan dalam Tari Bosara adalah baju adat Bodo. Pakaian ini dilengkapi dengan perhiasan, gelang motif bunga, hiasan rambut, anting, serta bando. Penari juga memakai hiasan pada bagian lengan untuk memberikan kesan glamor.

Seperti yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya bahwa properti yang digunakan adalah bosara, piring makanan khas Bugis. Bosara dipegang oleh penari dan digerakkan sesuai dengan irama musik pengiring.

2# Gerakan Tari Busara

Tari Bosara memiliki beberapa macam gerakan yang disesuaikan dengan anggota bagian tubuh. Pertama, gerakan kepala mengikuti arah gerakan tangan. Kemudian gerakan tangan dilakukan dengan cara seperti mengikat bosara yang di dalamnya terdapat kue-kue.

Badan bagian panggul bergerak ke kanan dan ke kiri sesuai dengan arah gerakan tangan. Terakhir, kaki bergerak jinjit bergantian sesuai dengan hitungan.

3# Pola Lantai Tari Busara

Pola lantai yang digunakan dalam Tari Bosara adalah pola lantai vertikal. Penari berbaris lurus dari depan ke belakang atau sebaliknya.

4# Musik Pengiring Tari Busara

Tari Bosara menggunakan alat musik tradisional sebagai musik pengiringnya. Ada beberapa alat musik tradisional yang digunakan sebagai musik pengiring dalam tarian ini. Sama dengan Tari Puspanjali, tarian ini juga menggunakan alat musik gendang.

Gendang yang digunakan terbuat dari kayu campaga yang dikuatkan dengan ikatan rotan. Bagian yang dipukul terbuat dari kulit kambing jantan. Kedua adalah kecapi yang dimainkan dengan cara dipetik. Kecapi yang digunakan adalah kecapi yang sama dengan pengiring pada Tari Tor Tor Batak Karo yakni Piso Surit.

Terakhir ada suling yang digunakan sebagai iringan musik dengan suara yang lembut. Perpaduan alat musik tradisional ini menghasilkan harmonisasi yang sangat indah.

Perkembangan Tari Bosara

Adat adalah sesuatu yang sangat dijaga oleh para leluhur. Namun, karena zaman terus berkembang, biasanya terdapat beberapa perubahan yang terjadi. Hal ini disebabkan karena interpretasi adat oleh masing-masing generasi berbeda. Selain itu, perkembangan zaman juga membuat adat di masa lalu tidak bisa disamakan dengan adat di masa sekarang.

Tetap melestarikan adat atau memilih acara pernikahan yang murah adalah pilihan setiap orang. Namun, jika semua orang memilih adat yang ditinggalkan untuk acara dengan biaya murah, bosara tidak akan lagi digunakan. Jika tidak ada bosara, kemungkinan Tari Bosara juga akan perlahan menghilang.

Para leluhur pasti sedih mengetahuinya. Namun, perkembangan zaman juga tidak bisa ditolak. Beberapa tahun lagi, mungkin Tari Bosara hanya akan menjadi kenangan.

Nah, itu tadi adalah penjelasan mengenai salah satu tarian tradisional khas Sulawesi Selatan, yaitu Tari Bosara. Tarian ini sudah mulai tergerus perkembangan zaman. Pada zaman yang modern ini, semua orang menginginkan sesuatu yang praktis yang murah.

Sedangkan adat-adat dan ritual yang dilakukan oleh leluhur pada masa lalu malah sebaliknya. Hal ini menyebabkan Tari Bosara semakin hilang karena tidak ada lagi anak muda yang melestarikannya. Sebagai generasi penerus bangsa, sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut melestarikan budaya dan adat tradisional.

Namun, kembali lagi pada preferensi masing-masing untuk memilih cara apa yang akan dilakukan. Jika pada akhirnya salah satu kesenian tradisional Indonesia menghilang, itu adalah konsekuensi yang harus diterima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!