Mengenal Self Management dalam perspektif Islam

2 min read

Manajemen diri atau self management adalah keterampilan penting dalam hidup sehari-hari, terutama bagi seorang Muslim yang diharuskan hidup terorganisir, produktif, dan sesuai dengan ajaran agama. Dengan manajemen diri yang baik, seseorang bisa mengatur urutan pekerjaan, menjaga ketenangan hati, dan menjalani aktivitas secara teratur. Dalam Islam, konsep ini dikenal sebagai tarbiyah ruhiyah, yaitu proses pembinaan jiwa agar lebih kuat dan semangat dalam beribadah.

Artikel ini menjelaskan arti manajemen diri, hubungannya dengan nilai-nilai Islam, serta peran tarbiyah ruhiyah dalam membentuk pribadi Muslim yang tangguh dan berpengaruh bagi masyarakat.

Pengertian Manajemen dan Self-Management

Apa itu Manajemen?

Kata ‘manajemen’ berasal dari kata ‘management’ yang berarti mengatur atau mengelola.

Secara umum, manajemen adalah proses mengorganisir dan mengarahkan berbagai sumber daya agar tujuan bisa tercapai. Fungsi ini tidak hanya diperlukan dalam dunia bisnis, tetapi juga dalam kehidupan seorang individu, agar segala aktivitas berjalan lebih efisien dan terarah.

Apa itu Self-Management?

Self-management adalah kemampuan mengatur diri sendiri, seperti menentukan urutan pekerjaan, mengatur waktu, memotivasi diri, serta menjaga perilaku agar selalu sesuai tujuan.

Dengan self-management, seseorang bisa tetap fokus dan konsisten dalam menjalani rutinitas hidup, baik di rumah, sekolah, maupun tempat kerja.

Pentingnya Self-Management bagi Muslim

Dalam Islam, manajemen diri termasuk bagian dari ibadah. Seorang Muslim dituntut untuk:

  • Disiplin dalam menjalankan kewajiban agama,
  • Mengelola emosi dan keinginan yang muncul,
  • Merencanakan hidup agar bermanfaat baik di dunia maupun akhirat.

Self-management membantu seorang Muslim menghindari kebosanan, meningkatkan kualitas ibadah, dan membentuk sikap hidup yang lebih matang.

Tarbiyah Ruhiyah Sebagai Dasar Manajemen Diri dalam Islam

Definisi Tarbiyah Ruhiyah

Tarbiyah ruhiyah adalah proses pembinaan spiritual yang bertujuan memperkuat hati dan jiwa seseorang, serta meningkatkan kesadaran tentang nilai-nilai agama.

Melalui tarbiyah ruhiyah, seorang Muslim berdiri lebih kukuh dan tidak mudah tergoda oleh godaan dunia.

Mengapa Tarbiyah Ruhiyah Penting?

Tanpa pembinaan spiritual yang baik, ibadah bisa jadi hanya sekadar rutinitas tanpa makna.

Tarbiyah ruhiyah membantu seorang Muslim:

  • Lebih istiqomah dalam beribadah,
  • Lebih peka terhadap dosa dan kesalahan,
  • Lebih kuat menghadapi tantangan dalam hidup,
  • Lebih bahagia karena semakin dekat dengan Allah.

Bentuk-Bentuk Aktivitas Tarbiyah Ruhiyah

  • Talqin Mafahim

Melatih pemahaman tentang konsep iman, tauhid, dan ketakwaan agar seseorang memiliki dasar berpikir yang benar dan lurus.

  • Taammul Ma’ani

Mengamati dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah dalam kehidupan sehari-hari, agar iman menjadi semakin kuat dan mantap.

  • Ta’wid Amaly

Melatih diri dalam amalan ibadah seperti qiyamul lail, puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Aktivitas seperti mabitl atau jalasah ruhiyah merupakan bentuk kontinuitas ibadah yang tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga mendatangkan manfaat yang besar.

Lima Faktor Mencapai Takwa (Menurut Abdullah Nashih Ulwan)

  • Mu’ahadah

Menguatkan kembali perjanjian antara manusia dan Allah, yaitu komitmen untuk taat dan menjauhi hal-hal yang dilarang.

  • Muraqabah

Merasa selalu diawasi oleh Allah dalam setiap situasi.

Kesadaran ini membantu menjaga keikhlasan dan kekuatan dalam beramal.

  • Muhasabah

Mengevaluasi diri setelah melakukan amal, apakah sudah ikhlas, sudah tepat, dan tidak merugikan orang lain.

Muhasabah membantu menjaga hati tetap bersih dari kesombongan dan riya.

  • Mu’aqabah

Memberikan hukuman pada diri sendiri saat lalai, sebagai bentuk pembelajaran agar tidak mengulangi kesalahan.

  • Mujahadah

Bekerja keras dalam beribadah, memaksimalkan kemampuan, dan tidak mudah menyerah. Mujahadah adalah puncak dari upaya memperkuat keimanan

Faktor yang Membuat Jiwa Lebih BaikFaktor Kepekaan Jiwa:

  • merasakan bahwa Allah selalu mengawasi,
  • mengingat kematian dan kehidupan di akhirat,
  • merenungkan hari pembalasan.

Kesadaran ini membuat hati tetap hidup dan tidak jenuh dengan kelalaian.

Faktor Amaliyah Lahiriyah:

Ruhani tumbuh karena amal yang dilakukan secara nyata, seperti:

  • membaca Al-Qur’an sambil memahami maknanya,
  • mempelajari sejarah Nabi dan meniru akhlaknya,
  • bergaul dengan orang-orang shaleh,
  • memperbanyak dzikir,
  • berdoa sendirian dengan tulus,
  • melakukan amal sunnah secara rutin.

Amal tersebut membantu membangun kebiasaan spiritual dan memperkuat jiwa.

Dampak Tarbiyah Ruhiyah pada Diri dan Umat

Tarbiyah ruhiyah yang kuat menciptakan individu yang dekat dengan Allah, memiliki iman yang terang, dan mampu menyebar kebaikan.

Hati yang kering menjadi basah, jiwa yang gelap menjadi terang, dan hidup terasa lebih mudah. Orang seperti ini tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi sekitar dan umat Islam.

Dengan mengelola diri sendiri dan melakukan tarbiyah ruhiyah, umat Islam dapat menghasilkan individu-individu yang berintegritas, teguh dalam iman, dan mampu menjadi perubahan positif.

Referensi

https://www.gramedia.com/literasi/memahami-pengertian-hingga-tujuan-manajemen/

https://www.gramedia.com/best-seller/self-management/

https://www.scribd.com/document/155255573/TARBIYAH-RUHIYAH


Penulis : Wafa Inayanti Estiazzahra

Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Seedbacklink