6 Jenis Pakaian Adat Jawa Tengah, Elegan dan Kaya Makna

3 min read

Pakaian Adat Jawa Tengah

Jenis Pakaian Adat Jawa Tengah, Elegan dan Kaya Makna – Kehidupan warga Jawa tengah kental dengan adat budaya peninggalan nenek moyang. Satu diantaranya, bisa Parents saksikan dari baju tradisi yang selalu dikenai saat beberapa acara resmi atau non-formal. Baju tradisi Jawa tengah yang terlihat menawan ini melambangkan kekayaan khazanah budaya di Jawa tengah.

Pakaian Adat Jawa Tengah

Yuk, baca tipe pakaian adat Jawa tengah, bisa saja rekomendasi untuk dikenai saat mendatangi kondangan sampai sebagai baju pengantin.

Kebaya

Kebaya berbentuk baju atasan berupa blus. Baju kebaya di Jawa tengah dipadankan dengan batik atau kain panjang yang dilingkarkan sampai mata kaki. Istilah kebaya datang dari kata abaya dengan bahasa Arab memiliki arti baju. Mode pakaian kebaya mulai dikenali bersamaan ada perdagangan di Nusantara, terutamanya dengan bangsa Arab, Cina, India, atau Eropa.

Untuk mengenakan kebaya, wanita Jawa tengah kenakan kelengkapan yang lain, yakni kemben untuk tutup sisi dada, tapih pinjung, dan stagen untuk kencangkan sisi pinggang dan perut. Sementara pada bagian bawahnya, wanita Jawa tengah kenakan kain jarik panjang.

Pada bagian rambut, wanita Jawa tengah umumnya mengatur dan membuatnya jadi konde dengan rapi dengan dihias bunga melati pada bagian atas. Tidak lupa pemakaian perhiasan untuk percantik keseluruhnya performa. Perhiasan itu dapat berbentuk kalung, subang, cincin, dan gelang. Wanita Jawa tengah suka juga bawa kipas.

Filosofi Kebaya

Kebaya di Jawa tengah mempunyai corak dan pola yang lain dengan wilayah yang lain. Dapat dibuat dari bermacam tipe bahan, seperti beludru, sutra, katun, sampai nilon.

Dalam filosofi Jawa, Kebaya bermakna kesabaran, karakter kurang kuat halus. Potongan kebaya ikuti wujud badan memiliki makna harus dapat beradaptasi dengan kondisi dan jaga diri sendiri.

Seiring berjalannya waktu, kebaya tidak pernah kehilangan pecinta. Kebaya jadi saksi dari perubahan Indonesia semenjak jaman dulu sampai sekarang ini.

Model kebaya ini selalu ikuti perubahan dunia model dari periode ke periode. Dengan begitu kebaya bisa bertahan sampai saat ini. Kebaya ini pas digunakan buat kondangan, ya, Parents.

Jawi Jangkep, Pakaian Adat Jawa Tengah untuk Pria

Baju jawi jangkep sebagai baju yang diutamakan untuk golongan pria. Baju ini terbagi dalam atasan dengan pola bunga di sisi tengah dan beskap pada bagian dalam.

Beskap dibuat berbahan tebal dengan warna polos. Pada bagian leher beskap dikasih kerah tetapi tidak berlipat. Warna beskap biasanya gelap, seperti hitam, hijau tua, biru tua, merah bata, dan yang lain. Tapi sekarang sesuaikan acara saat memakai beskap.

Bagian bawahnya memakai kain jarik yang dililit dari pinggang. Pada jaman dulu, Jawi Jangkep kerap dipakai oleh abdi dalam atau mempelai pria dalam pernikahan tradisi Jawa tengah.

Filosofi Jawi Jangkep

Dalam filosofi Jawa, baju ini dikenali dengan istilah Piwulang Sinandhi. Kancing dalam baju beskap menyimbolkan semua perlakuan yang diambil harus diakui dengan jeli.

Untuk melengkapi baju jawi jangkep, umumnya digunakan blangkon, keris dan selop dan untaian bunga melati yang dikalungkan di leher. Penampilan ini memberikan kesan-kesan pria-pria Jawa tengah yang gagah dan sopan.

Basahan, Busana Adat Jawa yang Dipakai Pengantin

Basahan ialah baju tradisi yang umum digunakan beberapa pengantin di Jawa selainnya Kanigaran. Baju ini dikenal juga bernama dodot karena ke-2 mempelai umumnya kenakan kain kemben lebar dan panjang yang umum diberi nama kain dodot.

Basahan mengarah pada riasan khusus pengantin dari keluarga kerajaan Kesultanan Ngayogyakarta yang disebutkan paes ageng kanigaran.

Pakaian adat basahan sebagai peninggalan dari kebudayaan Mataram dan ada banyak dipakai sampai sekarang ini. Pakaian tradisi basahan biasa digunakan dalam upacara pernikahan.

Filosofi Basahan Sebagai Pakaian Adat Jawa Tengah

Basahan bermakna filosofi yang dalam, keseluruhnya baju ini memiliki kandungan lambang menyerah diri ke Tuhan Yang Maha Esa. Lambang itu ada di tiap komponen tata dandan sampai baju yang dipakai.

Tiap bagian dari baju ini bermakna keinginan agar jalani hidup dan membentuk keluarga yang serasi, berbahagia, dan sejahtera dan bisa hidup sesuai dengan alam.

Surjan

Baju Surjan sebagai baju tradisi Jawa tengah yang berbentuk baju atasan. Sama seperti dengan jawi jangkep, surjan ditujukan khusus untuk golongan pria.

Surjan berlengan panjang dengan kerah tegak. Baju tradisi ciri khas Jawa tengah yang ini mempunyai beberapa kancing yang dipasang pada bagian kerah, dada kiri dan kanan, dan dada dekat perut yang mempunyai jumlah kancing berlainan setiap tempat.

Baju surjan sendiri terdiri dari 2 tipe yakni Surjan Lurik dan Surjan Ontrokusuma. Ketidaksamaan di antara ke-2 nya ialah Surjan Lurik bermotif garis-garis dalam pada itu Surjan Ontrokusuma bermotif bunga.

Makna Filosofis di Baliknya

Menurut riwayat, surjan sebagai peninggalan budaya kerajaan Mataram Islam yang dibuat pertama kalinya oleh Sunan Kalijaga. Penggunaan surjan dahulunya terbatas pada Bangsawan dan abdi keraton. Tetapi sekarang ini Surjan sudah digunakan oleh semua kelompok masyarakat.

Baju surjan disebutkan sebagai baju “takwa”. Arti filosofi di belakangnya yakni pada bagian leher mempunyai kancing 3 pasang (6 biji kancing) yang memvisualisasikan rukun iman. Dalam pada itu, 2 buah kancing pada bagian dada samping kiri dan kanan menyimbolkan dua kalimat syahadat.

Batik

Batik ialah baju tradisi dari Jawa tengah yang go-international. Bahkan juga batik sudah diputuskan jadi peninggalan dunia oleh UNESCO. Pakaian batik mempunyai macam pola yang dikuasai oleh keadaan geografis dan budaya. Jawa tengah mempunyai keberagaman pola batik salah satunya yakni:

  1. Motif Truntum, maknanya membimbing, diharap orang-tua dapat membimbing pengantin
  2. Motif Tambal, maknanya menambahkan semangat baru. Dipercayai bila orang sakit menggunakan kain ini karena itu dia akan segera pulih
  3. Tipe Pola Pamiluto, dengan bahasa Jawa dapat disimpulkan kepilut atau tertarik
  4. Motif Sidoluhur, dipercayai bila memakainya seorang akan pada kondisi senang
  5. Selanjutnya Pola Sido Wirasat, berisi nasihat orangtua dalam masuk bahtera hidup rumah tangga.
  6. Pola Cakar Ayam, melambankan supaya sesudah memiliki keluarga sampai turunannya bisa mecari nafkah atau hidup berdikari
  7. Motif Grageh Waluh, ditujukan akan memiliki harapan atau arah yang mulia
  8. Lantas Pola Parang, menyimbolkan kepandaian, kewibawaan dan ketenangan
  9. Motif Kawung, menyimbolkan jika hati nurani sebagai pusat pengontrol sikap manusia

Batik dari wilayah pesisir umumnya lebih aktif dalam penyeleksian warna dan coraknya dibandingkan dengan dari wilayah yang dipengaruhi oleh budaya keraton. Nach, Parents sendiri telah mengumpulkan pola batik mana saja, nih?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!