Tari Buyung : Asal usul dan Sejarahnya Lengkap

2 min read

Tari Buyung

Tari Buyung : Asal usul, gerak tari, busana dan Sejarahnya Lengkap – Apakah kalian ada yang pernah menyaksikan Tari Buyung? kalau kalian belum pernah’ berarti sama dengan saya, soalnya saya juga belum pernah menyaksikan tari yang satu ini. Dengan rasa pensaran maka dari itu saya akan mempelajari dan mencari referensi di internet. Semoga ulasan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Tari Buyung

Dilansir dari Wikipedia, Tari Buyung ini adalah tari tradisional yang berasal dari masyarakat Kuningan. Biasanya taru Buyung ini dilaksanakan pada perayaan pada upacara adat seren taun.

Tari Buyung ini berasal dari provinsi Jawa Barat, tari Buyung di pertunjukkan pada upacara seren tahun Barat, jadi pada tanggal 18 raya agung maka upacara seren tahun akan di mulai dan tari ini sebagai penyambutannya. Sedangkan untuk tanggal 22 raya agung akan dilaksanakan sebuah kegiatan yaitu pembukaan padi dimana sebagai puncak upacaranya. Acara ini biasa berlangsung dalam waktu selama 1 Minggu.

Asal Usul Tari Buyung

Tari Buyung ini adalah sebuah ungkapan bagi masyarakat untuk memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan yang maha Esa atas penghasilan dari panen padi. Upacara seperti ini sudah ada sejak kerajaan Pajajaran dan biasa di awali untuk mengangungkan Nyi Pohaco Sanghyang Aci.

Pada masa itu masyarakat masih identik suka mempercayai Animisme atau Dinaminsme yaitu masyatakat masih percaya dengan arwah dari Nenek Moyang dengan kekuatan Alam diaman ini juga disertai dengan ajaran Hindu maupun agama Buddha.

Tari Buyung ini menggambarkan sebuah gerakan dengan para penari membawa sebuah kendi atau guci yang biasa digunakan untuk tempat menyimpan air dan biasa dibawa oleh para wanita saat pergi ke sungai.

Jadi, para penari tari Buyung ini menggambarkan dimana kebiasaan masyarakat setempat sedang pergi ke sungai yang berada di Pancoran Ciereng dan menggunakan sebuah buyung.

Buyung yang mereka bawa ini yaitu berbentuk guji atau gerabah yang bentuknya seperti gentong, yang terbuat dari tanah liat diaman proses pembuatannya ini, tanah liat yang di bentuk menjadi guji dan di bakar dengan api dengan kepanasan sekitar 1000 derajat celcius, maka nantinya akan bisa menghasilkan buyung yang memiliki tekstur yang kuat tidak cepat pecah.

Baca Juga : 20 Jenis Tari Tunggal yang Unik di Indonesia

Perkembangan Tari Buyung

Sedangkan untuk tarian Buyung ini di kreasikan oleh Emilia Djatikusumah yang mana dirinya ini adalah seorang istri yang di tuakan ole warga wilayah setempat. beliau adalah seorang istri dari Pangeran Djatikusumah pada tahun 1969. Diamana Emilia ini mengamati seorang gadis yang sedang mengambil air menggunakan buyung di sungai dan hal inilah yang menjadi inspirasi beliau dan terciptalah tari buyung.

Tari Buyung ini ternyata sudah ada dan berkembang cukup pesat di Indonesia, bahkan sudah banyak masyarakat yang mengetahui Tari Buyung ini dan sudah pernah menerima sebuah penghargaan dari dinas pariwisata dan kebudayaan di Indonesia, bahkan tari Buyung ini sudah dikenal hingga manca negara.

Tari Buyung

Jumlah Penari Tari Buyung

Ada beberapa wanita yang menjadi tari Buyung, biasanya jumlah penarinya ada 4 – 6 orang, maka tak heran kalau sangat meriah acaranya. Para penari biasa mengenakan sebuah kebaya lengkap dengan selendangnya yang di ikatkan di pinggang. Mengenakan sebuah busana batik dan rambutnya yang di sanggul.

Sementara untuk Buyungnya ini diletakkan diatas kepala dengan kendi di pinggang. Selanjutnya para penari akan menari diatas kendi dan sambil membawa buyung. Para penari akan menari dengan gerakan lemah gemulai dan sangat elok sehingga para penonton menjadi terkesima dan terkagum-kagum melihat tariannya.

Akhir Kata

Jadi, tari Buyung ini adalah seni Tari Tradisional yang berasal dari Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Tarian ini sebagai penyambutan saat perayaan upacara Seren tahun Jawa Barat.

Baca Juga : Sejarah dan Keunikan Tari Piring

Sebagai ungkap rasa syukur atas panen yang melimpah maka dari itu, masyarakat setempat mempersembahkan ini kepada Tuhan yang Maha Esa, dan tari Buyung ini sudah ada dan berkembang pesat pada masa Kerajaan Padjajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!