Tari Reog Ponorogo : Sejarah, Gerak, Kostum dan Daerahnya

4 min read

tari reog ponorogo

Tari Reog Ponorogo berasal dari daerah Ponorogo Jawa Timur. Tari Reog ini memiliki fungsi sebagai hiburan rakyat dengan mengandung unsur magis. Penari utama dari Tari Reog Ponorogo berkepala singa (Singa Barong) dengan hiasan bulu merak yang indah.

Tari Reog Ponorogo

Selain itu ada juga penari lainnya yang memakai topeng dan penari wanita yang menaiki kukudaan (kuda lumping). Reog ini seni tari yang berasal dari Jawa Timur tepatnya pada bagian barat-laut. Sesuai dengan namaya, Reog ini berasal dari Kota Ponorogo dan kita dapat menjumpai sesosok Warok dan gemblak pada Gerbang Kota Ponorogo.

Sejarah Tari Reog Ponorogo

Tari Reog Ponorogo ini mempunyai lima versi cerita yang populer dimana menceritakan tentang asal muasal Reog dan Warok. Cerita yang paling terkenal dan berkembang di masyarakat Ponorogo adalah tentang pemberontakan Ki Ageng Putu. Beliau adalah seorang abdi kerajaan pada mas Bhre Kertabumi. Dimana pada abad ke-15 Raja Majapahit berkuasa pada jaman itu.

Melihat kebijakan raja Bhre Kertabumi yang tidak baik maka Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Tiongkok. Karena sang raja ini mudah terpengaruh oleh sang istri dimana Ki Ageng Putu melihat rajanya yang korup dimana ki Ageng melihat kekuasaan kerajaan Majapahit akan berakhir.

Kemudian Ki Ageng Putu meninggalkan sang raja dan mendirikan sebuah perguruan seni bela diri. Beliau mengajarkan seni bela diri kepada anak-anak muda dan sebuah ilmu kekebalan diri. Dengan begini beliau mempunyai harapan bahwa muridnya nanti akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali.

Ki Ageng Putu sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk bisa menghadapi pasukan kerajaan yang sangat banyak, dengan begitu ki Ageng mempunyai sebuah ide untuk mengalahi ke populeran dari kerajaan dengan mengadakan sebuah pentas seni Reog. Jadi, reog ini adalah sebuah sindiran kepada Raja Kertabumi dan kerajaannya.

Dengan begitu, ki Ageng Putu berusaha mengambil perhatian dak hati masyarakat melalui seni pentas Reog dan hingga kini masih populer di Indonesia bahkan sudah go internasional.

Seni Pertunjukan Reog Ponorogo

Dalam pertunjukannya, penari utama menggunakan Topeng besar dengan kepala Singa dan menyatu dengan bulu burung merak yang menyerupai kipas besar dengan berat sekitar 50 Kg. Singa Barong ini adalah Raja Hutan dimana menjadi simbol untuk Kertabumi dan di bagian atasnya teradapat bulu burung merak yang memiliki arti pengaruh yang kuat bagi para rekan Tiongkoknya dimana yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.

Jatihan menggambarkan pasukan kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan Warok dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Putu.

Dengan semakin berkembangnya tari Reog di masyarakat Ponorogo kemudian Raja Bhre Kertabumi segera mengambil tindakan dan menyerang perguruan ki Ageng Putu agar pemberontakan ini cepat di atasi. Namun ternyata murid ki Ageng Putu tetap menajutkan seni reog ini secara diam-diam.Alur cerita yang populer dari tari Reog ini ditambahkan cerita Klono Sewandono, Dewi Songgolangit dan Sri genthayu.

Pementasan Tari Reog Ponorogo

Dalam pementasannya tari reog ini ditarikan beberapa sesi. Pada tari pembuka biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah pemberani dengan memakai pakaian serba hitam. Selanjutnya pada tarian Jhatilan akan ditarikan dengan 6-8 orang gadis yang menaiki kukudaannya. Pada saat ini tari reog ini dipentaskan pada acara pernikahan, khitanan, festival dan hari-hari besar nasional.

Ada juga tari pembuka lainnya yang dibawakan oleh beberapa orang anak kecil dengan adegan lucu disebut dengan Bujang Ganong atau Ganongan. Setelah pembukaan ini selesai selanjutnya akan ditampilkan adegan inti yaitu adegan Reog yang tidak tersusun adanya sekenario, dimana ada sebuah interaksi antara pemain dan dalang.

Gerak Tari Reog Ponorogo

Gerak yang ada di Tari Reog Ponorogo ini lincah dan terkadang ada kaku karena diperankan oleh seorang laki-laki yang gagah dan besar dengan mengikuti alunan musik.

Kostum Tari Reog Ponorogo

Ada lima komponen penari Tari Reog Ponorogo, diantaranya sebagai berikut :

1. Prabu Kelono Sewandono

Prabu Kelono Sewandono adalah tokoh utama dari Tari Reog Ponorogo. beliau ini adalah seorang Raja yang gagah, bijaksana dan sangat pemberani. Digambarkan juga sebagai manusia yang bersayap dan bertopeng merah. Senjata pamungkas beliau adalah Pecut Samandiman.

Adapun untuk perlengkapan kostumnya ini meliputi :

  • Cinde Merah ( celana )
  • Jarit
  • Boro-boro samir
  • stagen
  • Epek timang
  • Sampur
  • Uncal
  • Kace
  • Kalung lur
  • Cakep
  • Klat bahu
  • Probo
  • Keris Blangkrak / Ladrang
  • Binggel

2. Patih Bujangganong

Patih Bujanggonang adalah seorang Patih dari Prabu Kelono Sewandono. Beliau digambrakan seorang Patih yang bertubuh kecil dan pendek namun dia cerdik dan lincah. Patih Bujangganong ini adalah seorang Patih penthulan (andalan). Dalam memerankan patih ini si penari tidak mengenakan baju, hanya sebuah rompi dengan warna merah dan topeng warna merah.

Adapun untuk perlengkapan kostumnya ini meliputi :

  • Celana dingkikkan
  • Embong gombyog
  • Stagen
  • Epek timang
  • Sampur merah dan kuning
  • Rompi merah garis hitam
  • Binggel

3. Jathil atau Jathilan

Dalam seni tari Reog Ponorogo, jathilan ini diperankan oleh seorang wanita. Mereka ini digambarkan sebagai seorang prajurit wanita yang sangat cantik dan pemberani. Adapun untuk Kostum yang dikenakan adalah kemeja satin berwarna putih sebagai atasan dan sebuah jarit batik sebagai bawahannya. Mereka juga mengenakan udheng sebagai kostum penutup kepala dan mengendarai sebuah kuda kepang (kuda-kudaan yang terbuat dari bahan anyaman bambu).

Adapun untuk perlengkapan kostumnya ini meliputi :

  • Celana dingkikkan
  • Jarit parang barong
  • Boro-boro samir
  • Stagen
  • Epek timang
  • Sampur merah dan kuning
  • Hem putih lengan panjang
  • Kace
  • Gulon ter
  • Srempang
  • Binggel

4. Warok

Warok adalah orang sakti mandraguna dan mempunyai kekebalan terhadap senjata tajam. Penari Warok ini biasanya adalah orang yang berbadan besar. Adapun untuk pembagiannya, warok ini terbagi warok tua dan warok muda. Perbedaan ini dapat dikenali dengan kostum yang dikenakan. Warok tua mengenakan kemeja putih sedangkan untuk warok muda tidak mengenakan apa-apa, selain sebuah penadhon dan juga tidak membawa sebuah tongkat.

Senjata pamungkas dari Warok adalah sebuah tali kolor berwarna putih yang tebal. Warok ini mengenakan baju hitam-hitam (celana gombrong hitam dan baju hitam tidak dikancingkan disebut dengan Penadhon).

Adapun untuk perlengkapan kostumnya ini meliputi :

  • Celana kombor hitam
  • Jarit latar ireng
  • Stagen
  • Epek timang
  • Kolor
  • Udeng / iket => modang, jinjen ( warok tua ) dan 
  • tapak doro, debleng mondholan ( warok muda)
  • Waktung
  • Keris
  • Hem putih lengan panjang
  • Jam kantong ( jam gandul )
  • Tongkat
  • Sandal

5. Pembarong

Pembarong adalah seorang penari yang memiliki sebuah peranan paling penting dalam tari Reog Ponorogo ini. Pembarong ini nantinya yang akan membawa Dadak Merak sebuah topeng berkepala singa dengan sebuah hiasan burung merah dan bulunya di atas kepala singa, yang tingginya satu setengah meter. 

Pembarong mengenakan celana panjang hitam dan baju kimplong (baju yang hanya punya satu cantelan bahu) dan harus menggigit kayu di bagian dalam kepala singa untuk mengangkat Dadak Merak. Seorang pembarong haruslah orang yang sangat kuat, karena dia harus bisa menundukkan Dadak Merak hingga menyentuh lantai dan mengangkatnya lagi ke posisi tegak. 

Dadak Merak disimbolkan sebagai Singobarong, dan secara umum Dadak Merak inilah yang membuat tari Reog Ponorogo menjadi sangat unik, karena bentuk topengnya yang sangat besar dan khas serta adanya filosofi di dalamnya. Karena itu, pembarong benar-benar harus memiliki keterampilan dan kemampuan yang tinggi agar bisa menghidupkan Singobarong yang dimainkannya.

Baca Juga : Keunikan Tari Merak Pasundan Jawa Barat

Akhir Kata

Nah, itulah ulasan tentang tari Reog Ponorogo dari Daerah Jawa Timur. Semoga ulasan ini dapat bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi kita semua. Cukup sekian yang dapat saya sajikan dalam kesempatan ini, sampai jumpa lagi di pembahasan seni tari yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page