Manajemen Risiko dalam Perspektif Islam

3 min read

Manajemen Risiko dalam Perspektif Islam

Manajemen Risiko dalam Perspektif Islam – Dalam kehidupan ini sudah menjadi sunnatulah kita dihadapkan dengan ketidakpastian, boleh jadi hal yang kita hadapi sesuatu yang baik maupun buruk. Setiap manusia berbeda-beda cara bersikap dan berperilaku dalam menghadapi ketidakpastian, Perbedaan ini dipengaruhi karena beberapa faktor salah satunya Agama. Dan Islam mengatur segala urusan dunia maupun akhiratnya. Seperti firman Allah dalam surat Al-anam : 38 yang artinya

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا طَٰٓئِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطْنَا فِى ٱلْكِتَٰبِ مِن شَىْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatupun yang Kami lupakan di dalam Kitab, Kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.

Manajemen Risiko dalam Perspektif Islam

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwasannya islam adalah agama yang mengatur hubugan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan pribadinya, dan manusia dengan orang lain. Kita sebagai manusia yang Allah ciptakan sebagai seorang hamba, dan memiliki banyak ketidaktahuan dan ketidakmampuan, Maka dari sinilah manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan terus mencari tahu tentang hidup yang akan dijalani. Dalam setiap pilihannya maka akan ada konsekuensi yang dihadapi. Namun bagi seorang muslim, nilai-nilai islam menjadi tolak ukur dalam bersikap dan berperilaku termasuk sikap dan perilaku terhadap suatu hal yang tidak pasti. Islam pun mengajarkan kita bagaimana merencanakan segala sesutau. Seperti firman Allah dalam surat Al-Hasyr : 18 yang artinya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَۖ

Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ( akhirat ), Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa ketika kita menentukan visi ke depan perlu memiliki keseimbangan antara tujuan yang akan dicapai dan bekal yang harus dipersiapkan. Dari perkara sederhana, seperti kejadian di mana ketika kita melihat orang kaya, sudah semestinya kita melihat orang miskin.

Dengan demikian, seseorang tidak akan melihat dari satu sisi indahnya kekayaan semata, akan tetapi dia memperhatikan bagaimana kemiskinan yang kemungkinan bisa saja menghampiri sekaligus mengingatkan bahwa roda kehidupan akan terus berputar setiap waktunya. Dan bagi mereka yang diberikan kekayaan melimpah, dengan benar-benar memahami makna kehidupan hanyalah amanah yang Allah berikan, mereka tidak dengan mudahnya terlena dengan yang dimiliki saat ini, karena sadar semua itu hanya titipan dan bisa diambil kapan saja oleh Allah.

Maka dampak yang dialami, dengan kesadaran akan barang titipan, seseorang akan berusaha menjaga dan memanfaatkan apapun yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya dengan tujuan memberikan rasa cinta terhadap Allah dan bentuk Syukur yang dia berikan. Dengan kita melihat dari 2 sisi yang berbeda maka kita akan bisa mempersiapkan segala hal yang akan terjadi di masa mendatang dengan terus melakukan pilihan pilihan yang terbaik, Sehingga ketika kita dihadapkan dengan kondisi dari keduanya akan lebih siap dan kemungkinan buruk yang terjadi pun lebih kecil.

Ketika kita sudah menentukan pilihan, maka kita perlu adanya pengelolaan risiko yang akan mendatang. Seperti kisah Nabi Yusuf yang terdapat dalam ayat Al-Quran Surat Yusuf:46-47 yang artinya :

Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu dan mereka mengetahuinya.Dia (Yusuf) berkata, ‘Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; Kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan ditangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.

Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun, Dimana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.’”

Ayat diatas mengisahkan bahwa pada tujuh tahun kedua akan timbul risiko yang cukup mengancam. Dengan ditakwilkannya mimpi yang dialami, kemudian Yusuf mengukur dan mengendalikan suatu risiko yang akan terjadi pada tujuh tahun kedua. Karena Yusuf mengetahui sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang, Beliau memberi saran kepada seluruh penduduk negeri untuk menyimpan sebagian hasil panen tujuh tahun pertama demi menghadapi persoalan pada tujuh tahun berikutnya. Dengan Yusuf memberikan saran tersebut maka seluruh penduduk di negeri itu tidak mengalami kelaparan yang mengancam. Dari kisah inilah kita bisa paham bahwa suatu pengelolaan risiko itu sangat berguna untuk menghadapi risiko yang terjadi di masa mendatang. Dari kisah ini Yusuf mencontohkan kepada kita, Bagaimana menghadapi persoalan yang akan terjadi di masa mendatang.

Dalam Hadist dikisahkan, salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang meninggalkan untanya tanpa diikatkan pada sesuatu, seperti pohon, tonggak dan lain-lain, lalu ditinggalkan. Beliau s.a.w. bertanya: “Mengapa tidak kamu ikatkan?” Ia menjawab: “Saya sudah bertawakkal kepada Allah.” Rasulullah Saw tidak dapat menyetujui cara berfikir orang itu, lalu beliau bersabda, “Ikatlah dulu lalu bertawakkallah.” Makna dari hadist ini ketika seseorang melakukan tawakal tanpa usaha itu sungguh keliru dan Islam memaknai tawakal ketika seseoran sudah terus berusaha dan berupaya serta bekerja barulah kita menyerahkan diri kita kepada Allah SWT. Misalnya ketika musim hujan kita berusaha untuk keluar rumah selalu membawa payung, kemudian setelah membawa payung serahkan seluruhnya kepada Allah. Ternyata setelah membawa payung tidak terjadi hujan selama diperjalan.

Maka hal yang dilakukan orang tersebut tidak ada salahnya, Sebab telah melakukan ikhtiar supaya jangan sampai keluar dalam kondisi kehujanan, dan menghindari segala macam penyakit yang menghampiri. Maknanya tawakal yang diajarkan islam diartikan sebagai manajemen risiko. Dimana kita sebagai manusia harus terus berusaha mempersiapkan,berupaya,berusaha melakukan segala aktivitas dengan perhitungan yang sangat matang. Dengan begitu risiko yang akan dihadapi akan lebih terasa ringan.

Permasalahan risiko dan manajemen risiko dalam Islam merupakan suatu hal yang dapat ditalar oleh manusia sehingga bisa saja berubah dan bisa berkembang. Dan Islam memberikan peluang kepada kita untuk melakukan berbagai inovasi mengenai bentuk muamalah yang dibutuhkan dalam hidup ini, Dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditentukan oleh islam. Adapun prinsip-prinsip yang harus menjadi perhatian antara lain Menjaga maqashid syariah (memelihara agama, jiwa, keturunan, harta & akal), Memperhatikan halal dan haram, Tidak melakukan kemudaratan baik tidak disengaja maupun disengaja, Mengutamakan keadilan dan ihsan, Tidak melakukan hal yang dilarang dalam muamalat (gharar, maisir, barang haram, riba, dll)

Ditulis Oleh: Khansa Hanifah Syahidah
Mahasiswi STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!